RUANG PUBLIK KEAGAMAAN: INTOLERANSI DAN NARASI HUMOR NU GARIS LUCU

  • Ery Erman Ernayati Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, Indonesia
Keywords: Intoleransi, NU garis lucu, Ruang Publik

Abstract

Isu Intoleransi beragama yang ada di Indonesia telah mengakar kuat sampai saat ini. Dimulai dari mengklaim agama yang dianut adalah agama yang paling benar atau menilai agama lain sesat dan dianggap sebagai musuh. Bahkan ada sebagian masyarakat yang bersedia mengorbankan nyawa mereka demi membela agama, yang kemudian menunjukkan eksistensinya di ruang publik, seperti aksi bom bunuh diri, aksi perusakan fasilitas publik, hingga provokasi masyarakat untuk bersikap intoleran. Berbagai upaya telah dilakukan oleh beberapa akademisi untuk meminimalisir tindakan-tindakan tersebut. Selain itu media masa turut memberikan peran penting sebagai usaha tambahan peminimalisiran isu ini, salah satunya akun NUgarislucu di media Instagram. Akun NUgarislucu hadir dengan nuansa humor yang renyah namun mengandung edukasi yang bertujuan untuk menumbuhkan sikap toleransi beragama. Tulisan ini menggabungkan dua teori sekaligus, pertama konsep Ruang Publik Jurgen Habermas yang menjadikan ruang publik sebagai media untuk mengutarakan semua asumsi secara bebas. Kedua teori Cyberspace yang diusung Yasraf Amir Piliang untuk melihat eksistensi Nugarislucu di ranah media massa mengingat fenomena diruang ini mulai menyaingi isu yang terjadi di dunia nyata termasuk intoleransi beragama.  Penggabungan dua konsep ini  dapat melihat akun NUgarislucu sebagai  media  sekaligus ruang publik yang menjadi konsumsi masyarakat hingga dapat membentuk opini publik.

References

Arifianto, Alexander R. “Practicing What It Preaches? Understanding the Contradictions between Pluralist Theology and Religious Intolerance within Indonesia’s Nahdlatul Ulama.” Al-Jami’ah: Journal of Islamic Studies 55, no. 2 (December 15, 2017): 241–64. https://doi.org/10.14421/ajis.2017.552.241-264.

Arliman S., Laurensius. “Memperkuat Kearifan Lokal Untuk Menangkal Intoleransi Umat Beragama Di Indonesia.” Ensiklopedia of Journal 1, no. 1 (November 9, 2018): 85–90. https://doi.org/10.33559/eoj.v1i1.18.

Asrori, Ahmad. “Radikalisme Di Indonesia: Antara Historisitas Dan Antropisitas.” KALAM 9, no. 2 (February 23, 2017): 253. https://doi.org/10.24042/klm.v9i2.331.

Azra, Azyumardi. “Sekolah Pascasarjana | Azyumardi Azra: Sikap Intoleran Ada di Agama Non Islam.” Accessed July 1, 2021. http://graduate.uinjkt.ac.id?p=17609.

tirto.id. “Bom Bali 2002: Kebiadaban Teroris dan Duka Para Korban,” n.d. https://tirto.id/bom-bali-2002-kebiadaban-teroris-dan-duka-para-korban-c5GL.

Bruinessen, Martin van. “Traditions for the Future: The Reconstruction of Traditionalist Discourse within NU.” Nahdlatul Ulama, Traditional Islam and Modernity in …. Accessed July 1, 2021. https://www.academia.edu/707646/Traditions_for_the_future_The_reconstruction_of_traditionalist_discourse_within_NU.

kumparan. “Dakwah Garis Lucu NU-Muhammadiyah.” Accessed July 1, 2021. https://kumparan.com/kumparannews/dakwah-garis-lucu-nu-muhammadiyah-1547175616360531881.

Efendi, Ahmad, and Rahmat Basuki. “Humor Analysis Of Ideological Discussion In Twitter Account Interactions @NUgarislucu and @MuhammadiyinGL.” International Journal of English and Applied Linguistics (IJEAL) 1, no. 1 (June 6, 2021): 19–25. https://doi.org/10.47709/ijeal.v1i1.968.

Fadhli, Hasbulloh Alfian. “Membaca NU Garis Lucu (NUGL) Sebagai Upaya Pencegahan Faham Radikalisme Di Kalangan Remaja Indonesia.” DINAMIKA : Jurnal Kajian Pendidikan Dan Keislaman 5, no. 2 (December 28, 2020): 21–38. https://doi.org/10.32764/dinamika.v5i2.731.

Fiqri, Ummul Pertiwi. “Dialog Humor Antargama Dan Politik.” JRMDK Jurnal Riset Mahasiswa Dakwah dan KOmunikasi 2, no. 1 (n.d.): 11.

Gusnanda, Gusnanda, and Nuraini Nuraini. “Menimbang Urgensi Ukhuwah Wathaniyah Dalam Kasus Intoleransi Beragama Di Indonesia.” Jurnal Fuaduna : Jurnal Kajian Keagamaan Dan Kemasyarakatan 4, no. 1 (June 30, 2020): 1. https://doi.org/10.30983/fuaduna.v4i1.3237.

Halim, Abdul. Relasi Islam, Politik dan Kekuasaan. Lkis Pelangi Aksara, 2013.

Hardiman, F. Budi. Ruang Publik: Melacak Partisipasi Demokratis Dari Polis Sampai Cyberspace. Yogyakarta: Kanisius, 1010.

———. Seni Memahami: Hermeunetika Dari Schleiermacher Sampai Derrida. Yogyakarta: Kanisius, 2015.

Hefner, Robert W. “Religion, Law and Intolerance in Indonesia. Edited by Tim Lindsey and Helen Pausacker. London: Routledge, 2016. Pp. 395. $225 (Cloth). ISBN: 978-1138100879.” Journal of Law and Religion 33, no. 1 (April 2018): 117–21. https://doi.org/10.1017/jlr.2018.19.

Hobolt, Sara B., Wouter Van der Brug, Claes H. De Vreese, Hajo G. Boomgaarden, and Malte C. Hinrichsen. “Religious Intolerance and Euroscepticism.” European Union Politics 12, no. 3 (September 2011): 359–79. https://doi.org/10.1177/1465116511404620.

Jati, Wasisto Raharja. “Prospek Politik Digital Dalam Kelas Menengah Indonesia,” n.d. http://www.politik.lipi.go.id/kolom/kolom-2/politik-nasional/1012-wasisto-raharjo-jati.

Kuswanjono, Arqom. “Pluralisme Pancasila.” Jurnal Filsafat 16, no. 1 (April 11, 2017): 77–93. https://doi.org/10.22146/jf.23217.

Liputan6.com. “12-10-2002: Bom Bali I Renggut 202 Nyawa.” liputan6.com, October 12, 2014. https://www.liputan6.com/news/read/2117622/12-10-2002-bom-bali-i-renggut-202-nyawa.

Rahmanadji, Didiek. “Sejarah, Teori, Jenis Dan Fungsi Humor.” Bahasa Dan Seni 35 (2007): 217.

Slouka, Mark, and Zulfahmi Andri. Ruang yang hilang: pandangan humanis tentang budaya cyberspace yang merisaukan. Bandung: Penerbit Mizan, 1999.

suara.com. “Toleransi Natal, Santri Pesantren Main Rebana di Gereja Mater Dei Semarang,” December 25, 2019. https://jateng.suara.com/read/2019/12/25/104732/toleransi-natal-santri-pesantren-main-rebana-di-gereja-mater-dei-semarang.

Wahid, Abdurrahman. Islamku, Islam Anda, Islam Kita: Agama Masyarakat Negara Demokrasi. Cet. 1. Jakarta, Indonesia: Wahid Institute, 2006.

Published
2021-08-16