SIMBOL AGAMA DAN ORGANISASI TRANSNASIONAL: LIWA’ DAN RAYAH DALAM BENDERA HIZBUT TAHRIR INDONESIA

  • Dani Habibi Mahasiswa
Keywords: Paul Ricoeur's Hermeneutics, Liwa, Rayah, Hizbu Tahrir Indonesia

Abstract

         This article aims to reveal the hermeneutical meaning behind the flags Liwa and Rayah. The two flags by Hizbu Tahrir Indonesia (HTI) are seen as the flag of the Prophet. However, this view was denied by other Islamic groups because the flags of Liwa and Rayah were the flags used by Taqiyyudin An-Nabhani when declaring the government of Khilfah Islamiyah. Flags Liwa and Rayah black and white, which Black called Rayah and white called Liwa'. The two flags read Laa illaaha illaa Allah Muhammad Rasul Allah. In making interpretations, the author uses Paul Ricoeur's hermeneutical theory. The interpretation debate is heating up when Hizbu Tahrir wants to replace the Pancasila ideology into the ideology of the Caliphate. The difference in interpretation, point of view and context of hadith is the main problem why researchers want to reinterpret. The hermeneutic approach according to researchers is appropriate if it is used for the method of interpreting hadith texts and religious symbols. This research includes qualitative research. Qualitative research is a type of library research that collects data from books, books, and journals. The results of this study are symbols in the HTI flag that have ideological and political movements. In this study, the flag symbol turned out to be a symbol of identity which led to the Islamic political movement. the movements and practices carried out by HTI are nothing but the change of the democratic system and the ideology of the Pancasila into the ideology of the Islamic Shari'a with the Khilafah Islamiyah system

Abstrak

          Artikel ini bertujuan untuk mengungkap makna hermeneutis di balik bendera Liwa dan Rayah. Kedua bendera tersebut oleh Hizbut Tahrir Indonesia dipandang sebagai bendera rasulullah. Namun pandangan tersebut dibantah oleh kelompok Islam lainya karena bendera liwa dan rayah adalah bendera yang digunakan oleh Taqiyyudin An-Nabhani ketika mendeklarasikan sistem pemerintahan Khilfah Islamiyah. Bendera liwa dan rayah berwarna  hitam dan putih, yang Hitam dinamakan Rayah dan putih dinamakan Liwa’.  Kedua bendera tersebut bertulisan Laa illaaha illaa Allah Muhammad Rasul Allah. Dalam melakukan interpretasi, penulis menggunakan teori hermeneutika Paul Ricoeur.. Perbedaan penafsiran, sudut pandang dan konteks hadis menjadi masalah utama kenapa peneliti ingin menafsirkan kembali. Pendekatan hermeneutika menurut peneliti sesuai jika digunakan untuk metode menafsirakan teks hadis dan simbol-simbol keagamaan. Penelitian ini termasuk penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif  jenis penelitian pustaka yang mengumpulkan data-data dari kitab, buku, dan jurnal. Adapun hasil dari penelitian ini adalah simbol dalam bendera HTI mempunyai makna ideologi dan gerakan politik. Dalam penelitian ini, simbol bendera tersebut ternyata sebagai lambang  identitas yang berujung pada gerakan politik Islam. gerakan dan praktek yang dilakukan oleh HTI tidak lain adalah mengangganti sistem demokrasi dan ideologi Pancasila menjadi ideologi syari’at Islam dengan sistem pemerintahan Khilafah Islamiyah

References

Alma’arif, Alma’arif. “HERMENEUTIKA HADIS ALA FAZLUR RAHMAN.” Jurnal Studi Ilmu-Ilmu Al-Qur’an Dan Hadis 16, no. 2 (2015): 243–64. https://doi.org/10.14421/qh.2015.%x.

Amin, Ainur Rofiq al-. “Demokrasi Perspektif Hizbut Tahrir versus Religious Mardomsalari ala Muslim Iran.” ISLAMICA: Jurnal Studi Keislaman 8, no. 1 (September 2, 2013): 28–58. https://doi.org/10.15642/islamica.2013.8.1.28-58.

Arif, Syaiful. “Kontradiksi Pandangan HTI Atas Pancasila.” Jurnal Keamanan Nasional 2, no. 1 (May 1, 2016). https://doaj.org.

Arifin, Syamsul. “GERAKAN KEAGAMAAN BARU DALAM INDONESIA KONTEMPORER: Tafsir Sosial Atas Hizbut Tahrir.” Al-Tahrir: Jurnal Pemikiran Islam 14, no. 1 (May 1, 2014): 117–38. https://doi.org/10.21154/al-tahrir.v14i1.80.

Azda, Rofadhila, Sunaryanto Heri, and Aji Budiman Dwi. “REPRESENTASI MAKNA NASIONALISME DALAM LIRIK LAGU BENDERA, GARUDA DI DADAKU DAN DARI MATA SANG GARUDA.” Ut, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UNIB, 2012. http://repository.unib.ac.id/1501/.

Bollnow, Otto Friedrich. “Paul Ricœur Und Die Probleme Der Hermeneutik.” Zeitschrift Für Philosophische Forschung 30, no. 2 (1976): 167–89.

Junaedi, Deni. “BENDERA DI HIZBUT TAHRIR INDONESIA DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA (KAJIAN KONTEKS SEJARAH, KONTEKS BUDAYA, DAN ESTETIKA SEMIOTIS).” Jurnal Kawistara 2, no. 3 (December 22, 2012). https://doi.org/10.22146/kawistara.3938.

Kemp, Peter. “Phänomenologie Und Hermeneutik in Der Philosophie Paul Ricoeurs.” Zeitschrift Für Theologie Und Kirche 67, no. 3 (1970): 335–47.

Moran, Dermot. “Husserl and Ricoeur: The Influence of Phenomenology on the Formation of Ricoeur’s Hermeneutics of the ‘Capable Human.’” Journal of French and Francophone Philosophy 25, no. 1 (September 15, 2017): 182–99. https://doi.org/10.5195/jffp.2017.800.

Mu’ammar, Moh Nadhir. “Analisis Fenomenologi Terhadap Makna dan Realita.” Jurnal Studi Agama dan Masyarakat 13, no. 1 (June 20, 2017): 120–35. https://doi.org/10.23971/jsam.v13i1.573.

Mujahidin, Anwar. “SUBYEKTIVITAS DAN OBYEKTIVITAS DALAM STUDI AL-QUR`AN (Menimbang Pemikiran Paul Ricoeur Dan Muhammad Syahrur).” Kalam 6, no. 2 (February 1, 2017): 341–62.

Muzakka, Ahmad Khotim. “Propaganda Khilafah HTI di Indonesia.” JURNAL PENELITIAN, December 29, 2017, 163–82. https://doi.org/10.28918/jupe.v14i2.1217.

Ricoeur, Paul. “The Later Wittgenstein and the Later Husserl on Language.” Études Ricoeuriennes / Ricoeur Studies 5, no. 1 (July 15, 2014): 28–48. https://doi.org/10.5195/errs.2014.245.

Sahran, Ahmad Rajafi, and Ummi Hasanah. “Hadits Perempuan Melakukan Perjalanan tanpa Maẖram Perspektif Hermeneutika Paul Ricoeur.” Aqlam: Journal of Islam and Plurality 3, no. 1 (2018). https://www.neliti.com/publications/240913/hadits-perempuan-melakukan-perjalanan-tanpa-mahram-perspektif-hermeneutika-paul.

Sawen, Harto Bernabas Berty, Pamerdi Giri Wiloso, and Elly Esra Kudubun. “BENDERA MERAH PUTIH DALAM ARAREM (Studi Sosiologis Tentang Makna Simbolik Bendera Merah Putih Dalam Upacara Pembayaran Maskawin Pada Masyarakat Desa Ambroben, Distrik Biak Kota).” Cakrawala 5, no. 1 (June 20, 2016). http://ejournal.uksw.edu/cakrawala/article/view/501.

Shofwan, Arif Muzayin. “PANDANGAN HIZBUT TAHRIR TERHADAP RADIKALISME GERAKAN ISIS DALAM MENEGAKKAN DAULAH KHILAFAH.” ADDIN 10, no. 1 (February 1, 2016): 141–62. https://doi.org/10.21043/addin.v10i1.1132.

Simon, John Christian. “Sumbangan Paul Ricoeur dalam Proses Berteologi.” GEMA TEOLOGIKA 3, no. 1 (April 25, 2018): 1–18. https://doi.org/10.21460/gema.2018.31.338.

Sudarman, Sudarman. “KHILAFAH DALAM PEMIKIRAN HIZBUT TAHRIR INDONESIA: Telaah Reaksi Ortodoksi Islam Terhadap Kapitalisme Global.” KALAM 11, no. 1 (June 30, 2017): 107–34. https://doi.org/10.24042/klm.v11i1.1179.

Topan, Mohamad. “KEKUASAAN MENURUT TAQIYUDDIN AN-NABHANI DALAM TINJAUAN ETIKA POLITIK.” Jurnal Filsafat 23, no. 2 (August 20, 2013): 147–57. https://doi.org/10.22146/jf.13218.

Ulfah, Isnatin. “EPISTEMOLOGI HUKUM ISLAM MUSLIMAH HIZBUT TM TAHRIR INDONESIA (MHTI) DI BALIK GAGASAN ANTI KESETARAAN GENDER.” Justicia Islamica 10, no. 2 (December 1, 2013). https://doi.org/10.21154/justicia.v10i2.148.

Published
2019-06-15