TRANSFORMASI KEARIFAN LOKAL PELA GANDONG DARI RESOLUSI KONFLIK HINGGA PENDIDIKAN PERDAMAIAN DI MALUKU

  • Anju Nofarof Hasudungan Sebelas Maret University
  • Sariyatun Sariyatun Universitas Sebelas Maret, Indonesia
  • Hermanu Joebagio Universitas Sebelas Maret, Indonesia
  • Lianda Dewi Sartika Universitas Sebelas Maret, Indonesia
Keywords: Transformation, Pela Gandong, Conflict Resolution, Peace Education

Abstract

Abstrack

Pela gandong local wisdom has succeeded in becoming a media for conflict resolution that is unique and different from the conflict resolution of international institutions. So that the reconciliation of the Ambon conflict can be achieved through the Malino II Agreement on 12 February 2002. However, Ambon's condition is still volatile and there is segregation. The condition of peace vulnerabilities is caused by fullfiling the peace gaps. Therefore, the peace gap must be addressed immediately with peace education. The purpose of this paper are, (1) Describe how the transformation of pela gandong from conflict resolution into peace education (2) And to find out what impact the transformation will have on peace in Ambon City, Maluku Province today. This paper uses descriptive qualitative research methods with case studies. The research sites were at SMPN 4 Salahutu Liang Central Maluku and SMPN 9 Ambon City in January 2018 and continued in November 2019. Data collection through literature study, interview, and participatory observation methods. The results of the study revealed that pela gandong succeeded in the second time transforming from conflict resolution to peace education. So, being able to fill the peace gap and overcome segregation among students of different Islamic and Christian religions, at the same time has bequeathed the value of peace to the Ambonese younger generation of Maluku.  

Keywords: Transformation, Local Wisdom, Pela Gandong, Conflict Resolution, Peace Education

 

Abstrak

Kearifan lokal pela gandong telah berhasil menjadi media resolusi konflik yang khas dan berbeda dari resolusi konflik lembaga internasional. Sehingga rekonsiliasi konflik Ambon dapat tercapai melalui Perjanjian Malino II pada 12 Februari 2002. Akan tetapi, kondisi Ambon masih tetap bergejolak dan terdapatnya segregasi. Kondisi perdamaian yang masih rentan itu (peace vulnerabilities) disebabkan oleh masih adanya kesenjangan perdamaian (fullfiling the peace gaps). Oleh karena itu, kesenjangan perdamaian harus segera diatasi dengan pendidikan perdamaian (peace education). Tujuan dari penulisan ini yakni, (1) Mendeskripsikan bagaimana transformasi pela gandong dari resolusi konflik menjadi pendidikan perdamaian (2) Dan untuk mengetahui apa dampak yang dihasilkan dari transformasi tersebut bagi perdamaian di Kota Ambon Maluku saat ini. Tulisan ini mengunakan metodelogi penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Lokasi penelitian di SMPN 4 Salahutu Liang Maluku Tengah dan SMPN 9 Kota Ambon pada Januari 2018 dan dilanjutkan pada November 2019. Pengumpulan data melalui metode studi kepustakaan, wawancara, dan observasi-partisipatoris. Hasil penelitian mengungkapkan pela gandong berhasil untuk ke dua kalinya bertransformasi dari resolusi konflik menjadi pendidikan perdamaian. Sehingga, mampu mengisi kesenjangan perdamaian dan mengatasi segregasi dikalangan siswa yang berbeda agama Islam dan Kristen, disaat bersamaan telah mewariskan nilai perdamaian kepada generasi muda Ambon Maluku.

Kata Kunci: Transformasi, Kearifan Lokal, Pela Gandong, Resolusi Konflik, Pendidikan Perdamaian

Author Biography

Anju Nofarof Hasudungan, Sebelas Maret University

Mahasiswa Magister Pendidikan Sejarah Semester 5 di Universitas Sebelas Maret Surakarta

Gedung Pascasarjana Universitas Sebelas Maret, Jalan Ir. Sutami 36 A, Surakarta (Solo), Indonesia, 57126

 

 

Published
2020-06-17