RITUAL TAREI ASYEIK PADA MASYARAKAT KELURAHAN PONDOK TINGGI KOTA SUNGAI PENUH PROVINSI JAMBI

  • Yolla Ramadani STIE Sakti Alam Kerinci
  • Nurlizawati Nurlizawati Universitas Negeri Padang, Indonesia
  • Salamah Salamah STIE Sakti Alam Kerinci, Indonesia
  • Yelnim Yelnim STIE Sakti Alam Kerinci, Indonesia
Keywords: disaster; mean; protected; Tarei Asyeik Rituals

Abstract

Artikel ini di tulis untuk menjelaskan mengapa masyarakat masih melaksanakan ritual Tarei Asyeik dan mendeskripsikan  proses serta makna yang terkandung dalam ritual Tarei Asyeik.  Data dikumpulkan  melalui  wawancara  mendalam dan observasi. Ritual Tarei Asyeik masih dilaksanakan oleh masyarakat Kelurahan Pondok Tinggi karena masyarakat meyakini bahwa dengan melaksanakan ritual Tarei Asyeik, mereka akan terlindungi dari segala bencana dan marabahaya yang akan mengancam kehidupan bermasyarakat mereka serta tidak semua penyakit bisa diobati secara medis. Ritual Tarei Asyeik memiliki makna membersihkan dan mensucikan jiwa dan raga.

 

This article was written to explain why people still perform rituals Tarei Asyeik and describe the process as well as the meaning contained in the ritual Tarei Asyeik. Data were collected through interviews and observations. Asyeik Tarei rituals are still performed by High cottage Village community because the community believes that by carrying out the ritual Tarei Asyeik, they will be protected from any disaster and distress that would threaten their community and not all diseases can be treated medically. Ritual Tarei Asyeik have meaning cleanse and purify the body and soul.

References

Alimin, dkk. Adat dan Budaya Daerah Kerinci. Dinas Kebudayaan Kabupaten Kerinci. 2006.

Agus, Bustanuddin. Agama Dalam Kehidupan Manusia (Pengantar Antropologi Agama). Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada. 2006.

Aris, La Ode. “FUNGSI RITUAL KAAGO – AGO (RITUAL PENCEGAH PENYAKIT) PADA MASYARAKAT MUNA DI SULAWESI TENGGARA.” KOMUNITAS: INTERNATIONAL JOURNAL OF INDONESIAN SOCIETY AND CULTURE 4, no. 1 (2012). https://doi.org/10.15294/komunitas.v4i1.2391.

Atmaja, Hendra. “Keberadaan Kesenian Rentak Awo Pada Masyarakat Kerinci.” FISIP-UNAND, 2006.

Bisri, Moh Hasan. “Perkembangan Tari Ritual Menuju Tari Pseudoritual Di Surakarta (The Development of Ritual Dance toward Pseudoritual Dance in Surakarta).” Harmonia: Journal of Arts Research and Education 8, no. 1 (2007). https://doi.org/10.15294/harmonia.v8i1.798.

Febriza, Bella, Nerosti Nerosti, and Zora Iriani. “STRUKTUR UPACARA DAN FUNGSI PERTUNJUKAN TARI ASYEIK DALAM PENGOBATAN DI DUSUN EMPIH KECAMATAN SUNGAI BUNGKAL KOTA SUNGAI PENUH.” Jurnal Sendratasik 7, no. 1 (August 14, 2018): 61-66–66.

Geertz, Clifford. Tafsir Kebudayaan. Yogyakarta: Kanisius, 1992.

———. The Interpretation Of Cultures. Basic Books, 1973.

Kaelan, Kaelan. Metode Penelitian Agama Kualitatif Interdisipliner. Yogyakarta: Paradigma, 2010.

Koentjaraningrat. Beberapa Pokok Antropologi Sosial. Jakarta: Dian Rakyat, 1972.

Kuswarno, Engkus. Fenomenologi: Metode Penelitian Komunikasi: Konsepsi, Pedoman, Dan Contoh Penelitiannya. Seri Metode Penelitian Komunikasi. Bandung: Widya Padjadjaran, 2009.

Manan, Abdul. “The Ritual Calendar of South Aceh, Indonesia.” Jurnal Ilmiah Peuradeun 5, no. 1 (January 28, 2017): 59–76. https://doi.org/10.26811/peuradeun.v5i1.120.

Nasution. Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif. Bandung: Tarsito. 1988.

Nottingham, Elizabeth. Agama dan Masyarakat Suatu Pengantar Sosiologi Agama. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada. 2002.

Pals, L. Daniel. Sevent Teories Of Religion. Yogyakarta: Qolam, 2001.

Saefuddin, Achmat Fedyani. Antropologi Kontemporer. Jakarta: Kencana. 2005.

Sodri, Sodri. “Kenduri Sko : Upacara Setelah Panen Padi Kecamatan Gunung Raya.” FIS-UNP, 2006.

Soedarsono. Pengantar Apresiasi Seni. Jakarta: Balai Pustaka. 1977.

Syam, Nur. Mazhab-mazhab Antropologi. Yogyakarta: LkiS. 2007.

Thohir, Mudjahirin. Memahami kebudayaan: teori, metodologi, dan aplikasi. Fasindo, 2007.

Zakaria, Iskandar. Tambo sakti alam Kerinci. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah, 1984.

Published
2020-06-16