Relevansi Qawā’id Fiqhiyyah dalam Merespons Persoalan Baru Hukum Ekonomi di Indonesia Perspektif DSN-MUI

  • Hatoli Hatoli Institut Agama Islam Sultan Muhammad Syafiuddin Sambas
Keywords: Kaidah Fikih; DSN-MUI; Ekonomi Syariah

Abstract

Menurut jumhur ulama, kaidah-kaidah fikih (qawā’id fiqhiyyah)  merupakan kunci berpikir dalam pengembangan dan seleksi hukum fikih. Dengan bantuan qawā’id fiqhiyyah semakin tampak jelas semua permasalahan hukum baru yang tumbuh ditengah-tengah masyarakat dapat ditampung oleh syariat Islam dan dengan mudah serta cepat dapat dipecahkan permasalahannya, sehingga tidak menjadi berlarut-larut tanpa kepastian hukum. Menurut sebagian ulama, kurangnya perhatian terhadap qawā’id fiqhiyyah termasuk salah satu penyebab keterbelakangan fikih. Maka apabila qawā’id fiqhiyyah (kaidah-kaidah fikih) muncul sebagai argumen dalam suatu ijtihad atau fatwa, seperti fatwa DSN-MUI maka berarti di situ sedang digunakan  hujjah maslahah yang berarti pula konsep maqāsid al-Syarī’ah (tujuan syariat) sedang diberdayakan dan dihidupkan di sana. Namun faktanya, dari 66 fatwa yang telah dikeluarkan oleh DSN-MUI (2008-2019), kaidah-kaidah fikih yang dimuat di dalam fatwa-fatwanya terlalu sedikit bahkan terdapat fatwa yang tidak menggunakan kaidah fikih sama sekali. Hal seperti ini dapat mengandung resiko ketidaktuntasan kajian, sehingga menghasilkan fatwa yang tidak tuntas pula, maka ini berarti tujuan kemaslahatan dari fatwa DSN-MUI tidak akan tercapai secara maksimal bahkan terkesan adanya pemaksaan diri dalam merespons perkembangan baru isu ekonomi.

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pola deskriptif yang menggambarkan konsep, mekanisme dan relevansi qawā’id fiqhiyyah dalam formulasi fatwa-fatwa DSN-MUI sebagai dasar dalam menjawab persoalan baru hukum ekonomi di Indonesia. Materi penelitian ini diperdalam dengan cara melakukan konfirmasi secara langsung kepada pihak yang terlibat dalam pembuatan  fatwa serta mencari data-data otentik yang terdapat pada DSN-MUI. Fatwa yang dikeluarkan oleh DSN-MUI adalah semata-mata untuk menjawab tantangan zaman, khususnya regulasi tentang sistem perekonomian Islam di Indonesia yang dalam formulasi fatwanya memuat kaida-kaidah fikih. Relevansi kaidah fikih dalam suatu fatwa hanyalah sekedar pelengkap suatu fatwa (mu’ayyidun), bukan hal yang wajib ada dalam suatu fatwa (mustaqillun). Yang pokok adalah Al-Quran dan Hadits. Tetapi untuk memberikan penjelasan secara gamblang, maka kaidah-kaidah yang sifatnya operasional dan implementatif (tatbīqī), maka dicantumkanlah kaidah tersebut dalam suatu fatwa agar memberikan kemudahan kepada pembaca dalam memahami suatu persoalan baru.

References

‘Abdullāh, ‘Athiyyah. Mawsū’ah al- Qawā’id al-Fiqhiyyah al-Munazzamah Lil Mu’āmalat al-Māliyyah al-Islāmiyyah Wa Dawruhā Fī Tawjīh al-Nuzum al-Mu’āsirah. Iskandariah: Dār al-Iman, t.th.

‘Alī Aẖmad al-Nadwī. Al-Qawā’id al-Fiqhiyyah: Mafhūmuhā, Nasy’atuhā, Tatawwuruhā,. Damaskus: Dār al-Qalam, 1994.

Al-Qaradhawi, Yusuf. Al-Ijtihād al-Mu’āshir Baina al-Inzhibāth Wa al-Infirāth. Kairo: Dar al- Tauzi’ wa al-Nasyr al-Islāmiyyah, 1994.

Amin, KH Ma’ruf. Fatwa Dalam Sistem Hukum Islam. Jakarta: elSAS, 2008.

DSN, dan BI. Himpunan Fatwa DSN-MUI. Jakarta: DSN dan BI, 2006.

Hidayatullah, Syarif. Qawā’id Fiqhiyyah Dan Penerapannya Dalam Transaksi Keuangan Syariah Kontemporer (Mua’amalat, Maliyah Islamiyah, Mu’ashirah). Jakarta: Gramata Publishing, 2012.

Husein Hamīd Hassān. Nazariyyah Al-Maslahah Fī al-Fiqhi al-Islāmī. Beirut: Dār al Nahdah al-Arabiyyah, 1971.

Kamil, ‘Umar ‘Abdullāh. Al-Qawā’id al-Fiqhiyyah al-Kubrā Wa Atsaruhā Fî al-Mu’āmalāt al-Māliyyah. Jāmi’ah al-Azhar: al-Dirāsāt al-‘Arābiyyah wa al-Islāmiyyah, t.th.,.

Mahmasānī, Subhī. Al-Nazariyyah al-‘Āmmah Li al Mujībāt Wa al-‘Uqūd Fī al-Syarī’Ah al-Islāmiyyah. 3rd ed. Beirut: Dār al-‘Ilm lil Malayin, 1983.

Maksum, Muhammad. Fatwa Ekonomi Syariah Di Indonesia, Malaysia Dan Timur Tengah. Jakarta: Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI, 2013.

Ma’luf, Luwīs al. Al-Munjid Fī al-Lughah Wa al-A’lām. Beirut: Dār al-Masyriq, 1986.

Mubarok, Jaih. Kaidah Fiqh, Sejarah Dan Kaidah Asasi. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2002.

Mudzhar, M. Atho. Esai-Esai Sejarah Sosial Hukum Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2014.

———. “Revitalisasi Maqasid Al-Syari’ah Dalam Pengembangan Ekonomi Syariah Di Indonesia.” Indo Islamika, 1, 4 (2014).

Mushafi. “Urgensi Hukum Ekonomi Islam Dalam Pembangunan Ekonomi Nasional Di Era Pasar Bebas.” At-Turas, 1, 2 (2015).

Nafis, M. Cholil. Teori Hukum Ekonomi Syariah. Jakarta: UI-Press, 2011.

Nashr Farid Muhammad Wasil. Qawa’id Fiqhiyyah. Jakarta: Amzah, 2009.

Suyūtī, Jalāluddīn ‘Abdurrahmān al-. Al-Asybāh Wa al-Nazāir. 2nd ed. Mesir: al-Matba’ah al-Husainiyyah al-Misriyah, 1322.

Undang-Undang No.19 Tahun 2008 Tentang Surat Berharga Syariah Nasional, n.d.

“Undang-Undang No.21 Tahun 2008 Tentang Perbankan Syariah.Pdf,” n.d.

Zuhailī, Wahbah al-. Al-Fiqhu al-Islāmī Wa Adillatuhu. 1st ed. Beirut: Dār al-Fikr, 2004.

———. Al-Fiqhu al-Islāmī Wa Adillatuhu. 5th ed. Syiria: Dār al-Fikr, 2006.
Published
2020-06-10